Ada dua alternatif investasi dalam saham. Secara langsung jika Anda yang memutuskan beli dan jual saham. Lainnya adalah tidak langsung melalui reksa dana saham jika Anda menyerahkan keputusan itu kepada manajer investasi (MI). Untuk mereka yang belum pernah berinvestasi saham namun tergiur dengan tingginya return saham, saran saya sebaiknya Anda memulai dari reksa dana saham.
Tetapi jika selama ini Anda sudah berinvestasi melalui reksa dana saham, namun kurang puas dengan hasil yang diperoleh, tidak ada salahnya mencobanya langsung. Untuk investor cerdas, berinvestasi saham langsung lebih menantang sekaligus dapat lebih menguntungkan.
Dalam artikel tentang kiat menilai reksa dana saham, saya mengatakan kalau tidak ada reksa dana saham yang terbukti mempunyai kemampuan market timing (antisipasi pasar) yang hebat atau b2 positif. Penelitian mengenai kinerja reksa dana saham oleh Rachman Untung (periode Januari 2004 – Desember 2006) dan oleh Djumyati Partawidjaja (Juni 2006 – Juni 2007) membuktikannya.
Tentang kemampuan pemilihan saham (a) seluruh MI yang ada di Indonesia, Untung hanya menemukan satu MI yang mempunyai a positif yang signifikan pada tingkat keyakinan 99%, sedangkan Partawidjaja tidak menemukan. Ini menunjukkan MI secara rata-rata tidak memiliki kemampuan superior alias tidak lebih cerdas dari investor piawai (investor tingkat 4).
Saham = zero-sum game?
Sebagai investor saham langsung, Anda menghadapi risiko kerugian yang hampir sama seperti investor saham tidak langsung jika pasar bearish dan indeks terus turun. Inilah ketakutan dan risiko utama investasi saham. Logikanya, jika indeks saham bergerak sideways saja alias turun dan naik terjadi hampir sama seringnya, investasi saham akan mirip seperti zero-sum game. Tidak persis sama pastinya, karena saham umumnya memberikan dividen.
Jika investor masih dapat menikmati keuntungan dari dividen saat indeks hanya turun-naik, tidak demikian halnya jika indeks terus merosot seperti yang dialami investor di bursa saham Tokyo dalam 19 tahun terakhir atau investor di bursa kita pada periode Juli 1997-September 1998.
Pada periode itu hampir semua investor saham langsung dan tidak langsung dipastikan mengalami kerugian. Ini membuktikan investasi saham bukan zero-sum game, tapi non-zero game karena semuanya bisa rugi alias lose-lose game.
Kebalikan dari kondisi semua rugi adalah semua menang atau win-win game. Inilah yang terjadi di bursa kita selama lima tahun berturut-turut (2003-2007). Hampir semua investor seperti mendapatkan keuntungan yang tidak habis-habisnya, baik dari capital gain maupun dari dividen yang dibagikan. Semakin jelas kan kalau investasi saham bukan zero-sum game?
Return di bawah IHSG
Tentang MI, Anda tahu apa yang paling mereka takuti, tetapi ditanggapi biasa oleh investor saham lainnya? Sejujurnya, MI sangat cemas kalau return reksa dana kelolaannya di bawah return IHSG karena akan mempengaruhi kinerja dan prospeknya.
Jika ini terjadi, kinerja MI itu akan langsung dikatakan di bawah pasar atau di bawah rata-rata. Akibatnya, calon investor baru kemungkinan tidak akan melirik reksa dana sahamnya; dan lebih parah lagi, sebagian nasabah yang ada mungkin akan menarik dananya (redemption) dan memindahkannya ke reksa dana saham lain.
Karenanya, tidak mengherankan kalau MI berusaha semaksimal mungkin agar kinerjanya tidak di bawah IHSG dan lebih baik lagi kalau dapat mengunggulinya. Caranya adalah dengan membuat portofolionya mendekati karakteristik pasar atau mempunyai b sekitar satu. Ini dilakukan dengan menerapkan strategi diversifikasi dan mengoleksi saham yang mempunyai bobot besar dalam penghitungan IHSG seperti saham-saham LQ-45.
Akan lebih ironis lagi jika yang mengalami return di bawah IHSG adalah reksa dana saham yang mengenakan subscription fee dan redemption fee tinggi. Seperti kita ketahui bersama, salah satu reksa dana terbesar yang high-profile menetapkan subscription dan redemption fee sampai sebesar 2% masing-masingnya. Ini berarti, nasabah harus siap menanggung biaya hingga 4% jika berinvestasi hanya setahun lamanya.
Menurut saya, fee 4% apalagi jika ada management fee dan selling agent fee, sungguh kemahalan dan membuat reksa dana saham kurang menarik. Mengapa kita harus membayar mahal hanya untuk membeli b satu? Jika tidak ada kendala keterbatasan dana, bukankah kita dapat dengan mudah melakukannya yaitu dengan mengoleksi saham-saham LQ-45?
Sebenarnya, benchmarking yang lebih tepat untuk kinerja MI bukan return IHSG, tetapi return IHSG + dividend yield. Keuntungan investor saham adalah capital gain dan dividen, sedangkan IHSG hanya mencerminkan komponen capital gain. Jika IHSG naik 16% dalam setahun, MI yang hanya mampu memberikan return sebesar 18% mestinya termasuk di bawah rata-rata karena return benchmarking menjadi 20% (16% + 4%). Kenyataannya, dividend yield yang sekitar 4% setahun tidak pernah digunakan dalam penilaian MI dan cenderung disembunyikan untuk mempercantik kinerja MI.
Selain alasan di atas, investasi saham melalui reksa dana tidak cocok untuk para investor penganut strategi fokus. Jika strategi diversifikasi didasarkan pada asumsi minimisasi risiko, strategi fokus dikembangkan dari asumsi maksimisasi keuntungan. Dari artikel saya bulan lalu, Anda tentunya sudah tahu dahsyatnya kekuatan strategi fokus.
Anda tertarik? Mulailah dengan mengalihkan 20% portofolio reksa dana saham Anda dan tingkatkan hingga 50% dalam saham langsung. Setelah membagi sama rata portofolio Anda antara saham langsung dan tidak langsung, bandingkanlah kinerja keduanya setelah 1-2 tahun. Jika reksa dana saham lebih baik, silahkan kembali lagi ke reksa dana saham 100%; dan sebaliknya, jika portofolio saham langsung Anda yang lebih unggul.