Infoobiz

Investasi saham

Mei 3, 2008 · 1 Komentar

Ada dua alternatif investasi dalam saham. Secara langsung jika Anda yang memutuskan beli dan jual saham. Lainnya adalah tidak langsung melalui reksa dana saham jika Anda menyerahkan keputusan itu kepada manajer investasi (MI). Untuk mereka yang belum pernah berinvestasi saham namun tergiur dengan tingginya return saham, saran saya sebaiknya Anda memulai dari reksa dana saham.

Tetapi jika selama ini Anda sudah berinvestasi melalui reksa dana saham, namun kurang puas dengan hasil yang diperoleh, tidak ada salahnya mencobanya langsung. Untuk investor cerdas, berinvestasi saham langsung lebih menantang sekaligus dapat lebih menguntungkan.

Dalam artikel tentang kiat menilai reksa dana saham, saya mengatakan kalau tidak ada reksa dana saham yang terbukti mempunyai kemampuan market timing (antisipasi pasar) yang hebat atau b2 positif. Penelitian mengenai kinerja reksa dana saham oleh Rachman Untung (periode Januari 2004 – Desember 2006) dan oleh Djumyati Partawidjaja (Juni 2006 – Juni 2007) membuktikannya.

Tentang kemampuan pemilihan saham (a) seluruh MI yang ada di Indonesia, Untung hanya menemukan satu MI yang mempunyai a positif yang signifikan pada tingkat keyakinan 99%, sedangkan Partawidjaja tidak menemukan. Ini menunjukkan MI secara rata-rata tidak memiliki kemampuan superior alias tidak lebih cerdas dari investor piawai (investor tingkat 4).

Saham = zero-sum game?

Sebagai investor saham langsung, Anda menghadapi risiko kerugian yang hampir sama seperti investor saham tidak langsung jika pasar bearish dan indeks terus turun. Inilah ketakutan dan risiko utama investasi saham. Logikanya, jika indeks saham bergerak sideways saja alias turun dan naik terjadi hampir sama seringnya, investasi saham akan mirip seperti zero-sum game. Tidak persis sama pastinya, karena saham umumnya memberikan dividen.

Jika investor masih dapat menikmati keuntungan dari dividen saat indeks hanya turun-naik, tidak demikian halnya jika indeks terus merosot seperti yang dialami investor di bursa saham Tokyo dalam 19 tahun terakhir atau investor di bursa kita pada periode Juli 1997-September 1998.

Pada periode itu hampir semua investor saham langsung dan tidak langsung dipastikan mengalami kerugian. Ini membuktikan investasi saham bukan zero-sum game, tapi non-zero game karena semuanya bisa rugi alias lose-lose game.

Kebalikan dari kondisi semua rugi adalah semua menang atau win-win game. Inilah yang terjadi di bursa kita selama lima tahun berturut-turut (2003-2007). Hampir semua investor seperti mendapatkan keuntungan yang tidak habis-habisnya, baik dari capital gain maupun dari dividen yang dibagikan. Semakin jelas kan kalau investasi saham bukan zero-sum game?

Return di bawah IHSG

Tentang MI, Anda tahu apa yang paling mereka takuti, tetapi ditanggapi biasa oleh investor saham lainnya? Sejujurnya, MI sangat cemas kalau return reksa dana kelolaannya di bawah return IHSG karena akan mempengaruhi kinerja dan prospeknya.

Jika ini terjadi, kinerja MI itu akan langsung dikatakan di bawah pasar atau di bawah rata-rata. Akibatnya, calon investor baru kemungkinan tidak akan melirik reksa dana sahamnya; dan lebih parah lagi, sebagian nasabah yang ada mungkin akan menarik dananya (redemption) dan memindahkannya ke reksa dana saham lain.

Karenanya, tidak mengherankan kalau MI berusaha semaksimal mungkin agar kinerjanya tidak di bawah IHSG dan lebih baik lagi kalau dapat mengunggulinya. Caranya adalah dengan membuat portofolionya mendekati karakteristik pasar atau mempunyai b sekitar satu. Ini dilakukan dengan menerapkan strategi diversifikasi dan mengoleksi saham yang mempunyai bobot besar dalam penghitungan IHSG seperti saham-saham LQ-45.

Akan lebih ironis lagi jika yang mengalami return di bawah IHSG adalah reksa dana saham yang mengenakan subscription fee dan redemption fee tinggi. Seperti kita ketahui bersama, salah satu reksa dana terbesar yang high-profile menetapkan subscription dan redemption fee sampai sebesar 2% masing-masingnya. Ini berarti, nasabah harus siap menanggung biaya hingga 4% jika berinvestasi hanya setahun lamanya.

Menurut saya, fee 4% apalagi jika ada management fee dan selling agent fee, sungguh kemahalan dan membuat reksa dana saham kurang menarik. Mengapa kita harus membayar mahal hanya untuk membeli b satu? Jika tidak ada kendala keterbatasan dana, bukankah kita dapat dengan mudah melakukannya yaitu dengan mengoleksi saham-saham LQ-45?

Sebenarnya, benchmarking yang lebih tepat untuk kinerja MI bukan return IHSG, tetapi return IHSG + dividend yield. Keuntungan investor saham adalah capital gain dan dividen, sedangkan IHSG hanya mencerminkan komponen capital gain. Jika IHSG naik 16% dalam setahun, MI yang hanya mampu memberikan return sebesar 18% mestinya termasuk di bawah rata-rata karena return benchmarking menjadi 20% (16% + 4%). Kenyataannya, dividend yield yang sekitar 4% setahun tidak pernah digunakan dalam penilaian MI dan cenderung disembunyikan untuk mempercantik kinerja MI.

Selain alasan di atas, investasi saham melalui reksa dana tidak cocok untuk para investor penganut strategi fokus. Jika strategi diversifikasi didasarkan pada asumsi minimisasi risiko, strategi fokus dikembangkan dari asumsi maksimisasi keuntungan. Dari artikel saya bulan lalu, Anda tentunya sudah tahu dahsyatnya kekuatan strategi fokus.

Anda tertarik? Mulailah dengan mengalihkan 20% portofolio reksa dana saham Anda dan tingkatkan hingga 50% dalam saham langsung. Setelah membagi sama rata portofolio Anda antara saham langsung dan tidak langsung, bandingkanlah kinerja keduanya setelah 1-2 tahun. Jika reksa dana saham lebih baik, silahkan kembali lagi ke reksa dana saham 100%; dan sebaliknya, jika portofolio saham langsung Anda yang lebih unggul.

→ 1 CommentKategori: Saham
Ditandai:

Investasi Saham Apakah Menjanjikan?

Mei 3, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Perekonomian Amerika Serikat saat ini dalam kondisi ketidakpastian dan dibayangi resesi karena dampak dari krisis subprime mortgage ternyata masih ada, membuat pasar finansial dan saham global gonjang-ganjing.

Namun investasi saham masih tetap menjanjikan, meski masih dibayangi dengan turun naiknya indeks yang lumayan besar, kata Head of Research Mega Capital, Felix Sindhunata dalam acara diskusi dengan Forum Wartawan Pasar Modal Indonesia di Jakarta, Jumat.

“Kami masih tetap optimis dengan pasar saham, asal saja investor waspada dan mencermati kondisi perekonomian dunia terutama AS, dan jeli memilih mana yang masih memberikan ruang mendapat keuntungan,”kata Felix Sindhunata.

Menurutnya ada beberapa sektor usaha yang masih memberikan harapan investasi di tahun 2008. Pertama sektor pertambangan (batubara) dan kedua sektor telekomunikasi. “Komoditi batubara terus naik harganya dan selalu menjadi incaran dari industri global,”ujarnya.

Sementara sektor telekomunikasi juga masih memberikan harapan terutama untuk operator telekomunikasi skala kecil yang punya pertumbuhan bagus. Dia menambahkan dari 12 operator telekomunikasi yang ada di Indonesia memang terjadi persaingan yang sangat ketat.

Namun operator skala kecil masih memberikan ruang pertumbuhan yang bagus. “Karena pada dasarnya orang akan mencari biaya telepon yang sangat murah dan sesuai dengan keperluan saja. Fasilitas ini biasanya disediakan operator skala kecil,katanya.

Sedangkan operator besar seperti Telkom dan Indosat masih punya pertumbuhan, namun pertumbuhan tersebut terus melambat.

Berbeda dengan Felix, Head of Research Recapital Securities, Poltak Hotradero agak pesimis dengan kondisi investasi saham pada 2008. Dia lebih memilih pada strategi defensif. “Kami masih tahan dulu meski harga saham murah, dan lebih memilih “preserve cash”,”katanya.

Masalahnya menurut Poltak, kondisi perekonomian dunia masih terus dibayangi oleh dampak krisis subprime mortgage. “Setiap saat indeks saham bisa turun lebih besar lagi, setiap ada pengumuman kerugian yang dialami perusahaan keuangan dunia macam Merryl Linch,”ujarnya.

Poltak mengatakan perusahaan keuangan global setiap saat dapat menarik atau menjual portofolio investasinya yang ada di berbagai belahan dunia termasuk bursa Indonesia.

“Dalam sekejap uang yang mereka tanam bisa lari keluar dan sangat berbeda dengan perusahaan multinasional (sektor rii)l yang meskipun mengalami kerugian tapi mereka tidak bisa serta-merta begitu saja menjual pabrik atau asetnya

→ Tinggalkan KomentarKategori: Analisis Saham
Ditandai:

Bapepam & BEI Tolak Pajak Final Reksa Dana

Februari 15, 2008 · 1 Komentar

Jakarta (Indofinanz) – Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menolak keputusan Pemerintah dan Panja DPR yang menyetujui penerapan pengenaan pajak final atas investasi reksa dana.

Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany di Jakarta, Kamis (14/02), mengaku kaget dengan keputusan pemerintah dan DPR. Pemerintah diharapkan tidak menerapkan kebijakan pajak final saat investor melakukan redemption.

Senada dengan Bapepam-LK, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menolak keputusan penerapan pajak final atas reksa dana dan menilai keputusan tersebut justru akan menghambat pertumbuhan industri reksa dana.

Ketua BEI Erry Firmansyah mengaku belum dapat memastikan besarnya dampak dari penerapan pajak final tersebut. Namun dipastikan kebijakan tersebut akan menyurutkan minat investor membeli reksa dana.

→ 1 CommentKategori: Reksadana

Apa dan Bagaimana Prospek Investasi Reksadana 2008?

Februari 13, 2008 · 1 Komentar

JAKARTA,  – Berinvestasi di pasar modal khususnya reksadana saat ini menjadi sebuah trend baru dalam masyarakat Indonesia, tetapi banyak juga dari mereka yang belum paham benar seluk beluknya, malah terkadang bukannya untung yang didapat malah buntung karena tertipu dan rugi hingga ratusan juta rupiah.Untuk menghindari hal tersebut ada baiknya Anda yang ingin berinvestasi tahu lebih banyak tentang investasi khususnya reksadana. Nah jangan lewatkan Welcome to BCA dalam perbincangan mengenai Prospek Investasi Reksadana 2008 dengan narasumber Muhammad Hanif, Direktur PT. Danareksa.

→ 1 CommentKategori: Reksadana

Rupiah Masih Melemah

Februari 12, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

JAKARTA,SELASA - Meski dollar AS di pasar global tertekan, namun rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antar bank Jakarta, Selasa (12/2) pagi, justru merosot mendekati angka batas psikologis Rp9.300 per dollar AS. Pelaku pasar khawatir dengan laju inflasi Januari yang mencapai 1,77 persen. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp 9.268/9.273 per dollar AS dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 9.241/9.277 per dollar AS atau melemah 27 poin.

Pengamat pasar uang, Edwin Sinaga di Jakarta, Selasa, mengatakan, inflasi tinggi dan kondisi makro yang tidak menentu menimbulkan kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi nasional. “Akibatnya, investor asing yang semula ingin menginvestasikan dana di pasar domestik cenderung hati-hati, karena khawatir dana yang akan diinvestasikan tidak memberikan hasil bahkan sulit kembali,” katanya.

Rupiah, lanjut dia, kemungkinan akan terus tertekan hingga mendekati level Rp 9.300 per dollar, karena pasar sepanjang minggu cenderung menekan. Walaupun nanti ada isu positif dari bank sentral AS yang akan kembali menurunkan suku bunganya, namun penurunan itu kemungkinan tidak akan banyak membantu pasar.

“Hal ini terlihat dari penurunan suku bunga Fed fund pada bulan lalu sebanyak dua kali, pertumbuhan ekonomi AS tetap melemah bahkan telah mengimbas kawasan Asia seperti China yang mulai khawatir atas kasus krisis gagal bayar kredit sektor perumahan AS (subprime mortgage),” tuturnya.

Menurut Edwin Sinaga yang juga Dirut PT Finance Corpindo, dengan tingginya inflasi maka Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan menaikkan suku bunganya. “Kenaikan suku bunga itu memang bertentangan dengan kecenderungan pasar bahwa suku bunga bank akan turun,” ucapnya.

Rupiah, lanjut dia, pada sore nanti cenderung terkoreksi karena negatif pasar masih tinggi, kecuali ada isu positif yang mendorong pasar menjadi positif. “Kami optimis rupiah masih tertekan yang terus mendekati level Rp9.300 per dolar AS,” ucapnya.

Sementara itu, perdagangan mata uang asing di pasar regional seperti euro turun terhadap dolar AS jadi 1,4502 dan terhadap yen melemah jadi 154,90 yen dan terhadap dolar AS 154,90 yen.

kompas

→ Tinggalkan KomentarKategori: Forex

Pengenalan Saham

Februari 11, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

  1. Apa itu Saham? 

Pernahkan anda bermimpi untuk mempunyai “kepingan” dari PT Astra misalnya?

Dengan saham anda bisa mewujudkannya! Dengan saham anda menjadi salah satu pemilik modal suatu perusahaan dengan persentase tertentu sesuai dengan saham yang anda miliki. Oleh karena itu, semakin besar saham yang anda miliki semakin besar juga kepemilikan anda dalam perusahaan.

Bagi perusahaan sendiri, saham dimaksudkan untuk memperoleh pendanaan tambahan untuk usahanya dengan menjual “bagian ” perusahaan kepada para investor.

Pada umumnya perusahaan membutuhkan dana tambahan untuk mengambangkan bisnisnya atau untuk membayar hutang.

  1. Bagaimana Menentukan Harga Saham? 

Harga saham setiap perusahaan tidaklah sama, harganya akan berbeda-beda. Apa yang menyebabkan perbedaan itu? Semua itu ditentukan oleh pendapat perusahaan.

Misalnya ada sebuah perusahaan yang menghasilkan profit sebesar 10 juta setiap tahunnya. Harga berapa kira-kira yang mungkin cocok untuk menjual perusahaan itu? Katakanlah ditawarkan dengan harga 100 juta. Apakah ada yang akan mau membelinya?

Pembeli potensial akan menilai situasi ini dengan pertanyaan “Berapa profit yang akan saya peroleh jika saya menginvestasikannya ke tempat lain?”. Jika ada wahana lain yang dapat menghasilkan lebih besar maka ia tidak akan membeli perusahaan tersebut. Mungkin perusahaan itu harus mengurangi harganya.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah potensi pertumbuhan keuntungan. Perusahaan tadi mungkin hanya dapat menghasilkan 10 juta tahun ini, tapi tahun depan berpeluang mendapatkan 20 juta. Untuk tingkat keuntungan 10% dan potensi pertumbuhannya, mungkin perusahaan tersebut bisa dijual dengan harga 150 juta.

Inilah yang menjadi alasan banyak saham yang mengalami kenaikan yang sangat pesat walaupun sekarang mereka tidak lagi banyak menghasilkan keuntungan.

  1. Apa itu Bursa Saham? 

Bursa saham adalah tempat dimana perusahaan dapat menawarkan sahamnya untuk dijual. Mereka melakukan hal ini melalui penawaran perdana (IPO).

Setelah penawaran perdana, ribuan atau jutaan investor yang telah membeli saham tersebut dapat kembali ke bursa saham untuk menjual sahamnya kepada investor yang lain, sehingga dimulailah perdagangan saham. Bursa saham hanyalah semacam tempat penampungan untuk perdagangan ini.

  1. Apa yang Menyebabkan Gejolak Harga Saham? 

Faktor-faktor yang menyebabkan gejolak harga saham dapat dibagi menjadi faktor makro dan mikro.

Faktor makro adalah faktor-faktor yang mempengaruhi ekonomi secara keseluruhan. Tingkat suku bunga yang tinggi, inflasi, tingkat produktivitas nasional, politik dan lain sebagainya dapat memiliki dampak penting pada potensi keuntungan perusahaan hingga pada akhirnya juga akan mempengaruhi harga sahamnya.

Faktor mikro adalah faktor-faktor yang berdampak secara langsung pada perusahaan itu sendiri. Perubahan manajemen, harga dan ketersediaan bahan mentah, produktivitas pekerja dan lain sebagainya yang akan dapat mempengaruhi kinerja keuntungan perusahaan tersebut secara individual.

Apa yang menyebabkan volatilitas atau gejolak harga adalah karena sering adanya perbedaan opini tentang kemana arah profitabilitas perusahaan tersebut. Di saat banyak orang berpikir bahwa profitabilitas suatu perusahaan menurun, maka akan lebih banyak yang menjual sahamnya sehingga harganya juga akan menurun. Tentu saja, hal yang sebaliknya juga dapat terjadi.

  1. Bagaimana Mengenai Dividen dalam Saham?

Selain kenaikan harga ataupun penambahan modal, dividen merupakan salah cara untuk dapat menghasilkan keuntungan. Banyak perusahaan yang juga membayarkan dividen tahunan. Ini adalah pembayaran tunai yang mencerminkan bagian dari profit perusahaan tersebut. Tetapi tentu saja sepenuhnya merupakan kebijaksanaan dari perusahaan tersebut untuk memberikan dividen atau tidak. Mereka tidak wajib melakukannya. Tetapi pada umumnya, mereka tetap akan memberikan sebagian dari profitnya sebagai bentuk penghargaan kepada para investornya.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Saham